Kepercayaan Dedari dan Dongeng Bidadari di Bali

4 / 7
image

4.1. Berbagai Representasi Dedari

Di pulau Bali, terdapat banyak kepercayaan dan budaya yang berkaitan dengan bidadari, yang disebut dedari, dan telah berkembang sejak zaman dahulu. Salah satu contoh yang paling umum adalah ritual sakral disebut Sanghyang Dedari. Dalam ritual ini, seorang penari perempuan bertindak sebagai perantara untuk medium dedari yang suci. Ritual ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari upacara penanaman padi di desa-desa pegunungan di Bali. Meskipun tradisi ini sempat mengalami penurunan seiring dengan modernisasi, tampaknya tradisi ini mulai bangkit kembali saat ini, terutama setelah pengumuman UNESCO pada tahun 2015 yang memasukkan Sanghyang Dedari ke dalam sembilan tari tradisional Bali dalam Daftar Warisan Dunia. (link: 9 Balinese dances make UNESCO heritage list - National - The Jakarta Post)


Dewi kecil berkepala kipas bernama Cili sering muncul dalam ritual di Bali dan menjadi simbol penting yang terkait dengan pemujaan bidadari setempat. Berbagai benda ritual yang menggambarkan Cili dapat dilihat dipajang di Museum Bali di Denpasar. Persembahan untuk Cili biasanya dibuat dari daun lontar, meskipun patung dari tanah liat atau perunggu juga digunakan. Karena gambar Cili sering digunakan dalam konteks doa untuk panen yang baik, Paeo, seorang petugas pendidikan dan konservasi di Museum Bali, mengatakan, "Cili adalah inkarnasi dari Dewi Sri, yang dikenal di seluruh Indonesia sebelum masuknya budaya Hindu. Dewi Sri juga dikenal sebagai Pertiwi atau Ibu Agung, dan dianggap sebagai simbol kesuburan yang melahirkan kehidupan".(link: NUSABALI.com - Patung Cili Simbol Kesuburan Bali).


Dengan ciri-ciri tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemujaan Dedari di Bali telah berkembang dan menghasilkan berbagai representasi yang mencerminkan perpaduan antara budaya animisme yang berasal dari masyarakat agraris dengan budaya impor dari India, Cina, dan Jawa. Sebagai contoh, bidadari bernama Supraba yang sering muncul dalam lagu-lagu tradisional dan seni pertunjukan Bali Supraba berasal dari puisi Jawa kuno (kakawin) dan wayang kulit. Namun, masyarakat Bali menggunakan karakter ini dalam berbagai konteks; mereka menampilkan Supraba dalam lirik gending sanhyang (lagu memanggil dewa) dalam ritual Sanghyang Dedari, dan juga dalam pertunjukan wayang yang berasal dari epos Mahabharata dari India. Dengan demikian, citra bidadari di Bali, yang namanya bervariasi tergantung pada konteksnya, terus hidup dan berkembang dalam imajinasi kreatif masyarakat Bali; seolah-olah mereka terbang dengan kain ajaib, melampaui batas waktu dan jarak.


4.2. Cerita Rajapala 

Di Bali, cerita Rajapala adalah cerita rakyat yang paling terkenal di antara dongeng-dongeng tentang perkawinan manusia-bidadari. Cerita ini juga disusun berdasarkan klasifikasi alur cerita dari A hingga E (lihat 3) oleh Yuko Momose, di mana gaya alur cerita E memiliki variasi yang menonjol. Secara tradisional, masyarakat Bali telah menyampaikan cerita rakyat secara lisan dengan mengandalkan imajinasi dan kreativitas masing-masing penutur ceritanya. Selain itu, cerita rakyat juga disampaikan dalam bentuk puisi ritual yang disebut geguritan.


Di Indonesia, mentransmisikan cerita rakyat melalui buku bergambar merupakan fenomena yang relatif baru di era modern. Oleh karena itu, jumlah buku bergambar yang menceritakan cerita Rajapala di Bali masih sedikit jumlahnya hingga saat ini. Salah satu contohnya adalah buku bergambar yang diterbitkan pada tahun 1978 oleh penulis Jawa, Siswanto Partodimulyo dan ilustrator Jawa, Julie Sutono (Gbr. 4-1, 4-2, 4-3, 4-4). Namun, karena teknik tata letak buku bergambar belum populer di Indonesia pada masa itu, karya Siswanto dan Julie leboh mirip dengan buku bacaan biasa ketimbang buku bergambar. Di balik layar, pemerintahan Suharto pada tahun 1970-an dan 1980-an giat mengumpulkan dan menerbitkan cerita rakyat dari seluruh Indonesia untuk mempromosikan ‘budaya nasional’. Karena kaum intelektual Jawa memegang peran sentral dalam gerakan ini, buku bergambar Rajapala tahun 1978 diterbitkan sebagai bagian dari usaha ‘budaya nasional’ ini dan termasuk sebagai salah satu seri di dalam karya ‘Kisah Seputar Buana’ (lihat alur cerita pada 4-3).



4-1 Sampul buku bergambar “Rajapala” (1978)


4-2 Rajapala: Karakter utama


4-3 Turunnya Supraba, Bidadari Surgawi


4-4 Rajapala mencuri kain Supraba


Namun, buku bergambar ini hanyalah salah satu versi cerita tersebut. Sebagian isinya tumpang tindih dengan cerita Joko Tarub yang berasal dari Jawa, khususnya dalam bagian di mana “sebutir beras menghasilkan sepanci nasi” dan “kain istri akhirnya ditemukan di lumbung padi”. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa buku bergambar Rajapala ini mencerminkan pemikiran pengarang dari Jawa. Hal ini dapat disaumsikan mengingat sifat cerita rakyat yang berubah-ubah sesuai dengan selera dari para pencerita.


Lalu, bagaimana kisah Rajapala yang ‘sebenarnya’ bagi masyarakat Bali? Tentu saja, tidak ada jawaban yang benar secara mutlak. Namun, satu pola yang umum adalah sebagai berikut: 1) Seorang pria (Rajapala) mencuri kain bidadari agar mereka dapat menikah (seperti yang terlihat dalam buku bergambar S. Partodimulyo), 2)Setelah istri (bidadari) melahirkan seorang anak laki-laki, kain tersebut ditemukan dan ia kembali ke surga, 3) Rajapala menyendiri di hutan untuk mengabdikan sisa hidupnya untuk meditasi, dan 4) Putra yang mereka tinggalkan, tumbuh menjadi seorang menteri penting di kerajaan. Hal ini diperkenalkan di dua website berikut; namun, halaman Wikipedia bahasa Indonesia untuk kisah Joko Tarub menggambarkan nama bidadari dalam kisah Rajapala sebagai Ken Sulasih, dan nama putranya sebagai Durma.


Kisah Rajapala: Legenda Hagoromo di Bali (balitaksu.com)

Legenda Jaka Tarub - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Selain itu, tampak ada tren menarik akhir-akhir ini di mana YouTube telah menjadi media baru untuk menyebarkan cerita rakyat Bali, yang sebelumnya tidak memiliki tradisi buku bergambar cetak. Namun, ada pula yang cerita yang menggambarkan Rajapala sebagai seorang pemburu, bukan sebagai petani atau bangsawan (alur cerita ini terkenal di Bali). Seperti dalam contoh dari video YouTube berikut (diceritakan oleh Wayan Suleman), di mana Rajapala diceritakan sebagai seorang pemburu yang menikahi bidadari bernama Ken Sulasih dan akhirnya hidup sendiri di hutan.




4.3. Alur Cerita Buku Bergambar Rajapala (S. Partodimulyo, 1978)


Sumber: Rajapara: Kisah Seputar Buana 3 Cerita dari Bali, teks oleh Siswanto Partodimulyo dan gambar oleh Julie Sutono, Jakarta: PT Gaya Favorit Press, 1978


I Siapakah yang mencuri bunga?

Alkisah, hiduplah seorang petani muda bernama Rajapala di sebuah desa kecil di kaki Gunung Agung. Berkat kerja keras Rajapala, desa itu terkenal di seluruh negeri dengan keindahannya yang selalu dipenuhi bunga. Rajapala bangga akan hal itu, tetapi satu-satunya hal yang kurang dari dirinya adalah ia tidak memiliki istri. Kemudian pada suatu pagi, ia melihat sesuatu yang aneh di salah satu taman bunga kesayangannya; banyak kuncup yang hendak mekar telah dipetik. "Kemarin aku melihatnya, tetapi pagi ini sudah tidak ada lagi, jadi pasti ada yang memetiknya tadi malam", pikirnya.


II Kunjungan Tengah Malam

Ketenaran desa indah itu tak hanya sampai ke masyarakat ibu kota, tetapi juga sampai ke dewa-dewi di kahyangan. Wangi bunga-bunga yang berwarna-warni itu pun selalu sampai ke kahyangan. Itulah sebabnya para bidadari kahyangan berunding bagaimana cara mendatangkan bunga-bunga yang harum semerbak itu. Akhirnya, bidadari tercantik di antara mereka, yang bernama Supraba, diutus ke bumi. Pada suatu malam, saat bumi diterangi cahaya bulan purnama, Supraba turun dari kahyangan untuk melihat apa yang terjadi di bumi. Ia terpukau dengan indahnya pemandangan desa-desa dan alam di kaki Gunung Agung.


Setelah kembali ke surga, Supraba dengan antusias menceritakan kepada teman-temannya tentang pemandangan indah yang dilihatnya dari langit. Penasaran dengan ceritanya, para bidadari lainnya memutuskan untuk mengikuti Supraba turun ke bumi. Ketika mereka mendarat di desa Rajapala, mereka terpesona oleh pemandangan yang luar biasa seperti yang diceritakan Supraba. Mereka segera memetik bunga-bunga harum, mandi di kolam yang berisi air murni, dan kemudian kembali ke surga bersama-sama.


Di surga, mereka menikmati bunga dengan cara mereka sendiri: menggunakannya sebagai hiasan rambut atau menghiasi istana. Karenanya, mengunjungi bumi bersama teman-teman untuk memetik bunga dan berenang di kolam menjadi hiburan terbesar mereka, yang dilakukan setiap malam bulan purnama.


III Gadis Cantik Julita

Sementara itu, hati Rajapala sakit karena bunganya sering dicuri. Meskipun ia menyelidiki seluruh area, ia tidak menemukan tanda-tanda kerusakan, ia hanya menemukan bahwa area di sekitar kolam itu basah seolah-olah seseorang telah mandi di sana. Rajapala yakin bahwa pencuri itu akan datang pada malam hari. Ia memutuskan untuk berjaga setiap malam. Namun, tidak terjadi apa-apa untuk sementara waktu. Ia merasa usahanya sia-sia.


Suatu perubahan terjadi pada suatu malam bulan purnama. Rajapala, yang berjaga dengan bersembunyi di balik bayangan taman bunga, melihat beberapa bayangan bergoyang di sisi lain. Saat ia menahan napas dan menatap bayangan-bayangan itu, ia mendengar suara-suara kecil dan bisikan-bisikan. Kemudian, terciumlah aroma harum. Setelah mengucek matanya berkali-kali, beberapa sosok perlahan-lahan mulai terlihat. Mereka adalah sekelompok gadis yang luar biasa cantiknya.


Rajapala kebingungan karena tidak tahu apakah mereka adalah hantu atau bidadari. Sementara itu, para gadis itu menanggalkan pakaian mereka dan mulai berenang di kolam. Rajapala memperhatikan mereka dan memutuskan untuk membiarkan mereka menikmati kegiatannya. Kemudian, ia mengambil enam jubah bulu yang telah ditinggalkan para bidadari di sekitarnya dan meletakkannya di dekat kolam. Setelah itu, Rajapala meninggalkan tempat itu.


Saat fajar menyingsing, para bidadari bersiap meninggalkan kolam sambil mengenakan jubah bulu. Saat itu, salah satu bidadari kebingungan karena tidak menemukan kain yang dibutuhkan untuk kembali ke surga. Teman-temannya mencarinya bersama-sama tetapi tidak menemukannya. Akhirnya, saat matahari terbit, keenam bidadari itu terbang sambil menangis dan meninggalkan satu bidadari. Jadi, tinggallah Supraba sendirian di bumi.


Di tepi kolam, Supraba terus bernyanyi dengan suara merdu sambil menangis, "Tolong, seseorang temukan kainku". Mendengar suaranya, Rajapala menghampirinya dan bertanya, "Nona, ada apa?". Supraba menjelaskan sambil menangis bahwa dia adalah bidadari yang turun dari surga dan tidak bisa pulang tanpa kainnya. Terkagum-kagum dengan kecantikan Supraba, Rajapala berpura-pura tidak tahu apa-apa, sambil berkata, "Jika kau percaya padaku, aku akan melindungimu". Karena bingung, Supraba memutuskan untuk meminjam kain dari Rajapala dan mengikutinya untuk tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.


Supraba menetap di rumah Rajapala yang sederhana namun cukup rapi. Namun, ia tidak dapat berhenti memikirkan surga. Ia bertanya kepada Rajapala, "Bagaimana dan kapan aku dapat kembali ke surga?". Rajapala menjawab, "Semua ini adalah kehendak Tuhan (Sang Hyang Widhi) bahwa kau dan aku bertemu". Kemudian, Supraba menjadi istri Rajapala.


IV Kejadian Besar

Setelah itu, Supraba melahirkan tiga putri. Mereka diberi nama Kusuma, Puspita, dan Ratna. Berkat kerja keras Rajapala, hasil panen selalu melimpah. Keluarga itu tidak pernah kekurangan makanan.


Namun, Rajapala lama-kelamaan mulai bertanya-tanya. Istrinya memasak banyak nasi setiap pagi, tetapi jumlah beras di lumbung tetap sama. Sebenarnya, ada rahasia di belakannya. Dengan kekuatan mantra yang dipelajari Supraba di surga, ia mampu memasak sebutir beras hingga penuh satu panci. Itulah sebabnya jumlah beras di lumbung tidak pernah berkurang.


Suatu pagi, Supraba kesiangan. Hal itu tidak biasa baginya. Rajapala telah pergi bekerja di ladang. Supraba segera mulai memasak nasi untuk anak-anaknya yang menunggu sarapan. Tepat saat itu Rajapala kembali. Supraba meninggalkan tempat itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya, sambil berkata kepada suaminya, "Tolong jangan buka tutup panci di atas api sampai aku kembali".


Setelah beberapa saat, Rajapala menyadari bahwa air yang mendidih di dalam panci hampir meluap. Rajapala teringat kata istrinya, tetapi ia tidak bisa membiarkannya begitu saja dan ia pun membuka tutup panci untuk mengeluarkan uapnya. Yang mengejutkannya, sebutir beras bergoyang-goyang di dalam panci. Ia menutup tutup panci sambil berpikir, "Apakah istriku lupa memasukkan beras?". Namun, air di dalam panci kembali tenang setelah itu.


Supraba kembali ke rumahnya. Rajapala meninggalkan dapur dan kembali bekerja di ladang. Seperti biasa, Supraba menunggu hingga nasi matang, lalu membuka tutup pancinya. Namun, yang dilihatnya di dalam panci hanya sebutir beras. Supraba bergegas menghampiri Rajapala dan bertanya dengan marah, "Kau yang membuka tutupnya, bukan?". Rajapala bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Supraba terus berkata, "Kau telah melakukan perbuatan yang sangat mengerikan. Bukan hanya aku harus bekerja keras mengirik padi setiap pagi, padi di lumbung kita akan cepat berkurang mulai sekarang karena kau." Sebagaimana yang diramalkan oleh Supraba, kehidupan keluarga itu menjadi semakin sulit karena mereka lebih banyak mengonsumsi beras daripada memperolehnya.


V Rahasia Terungkap

Suatu pagi, ketika Supraba pergi ke lumbung untuk menanak nasi dari sisa makanan, ia merasakan keinginan untuk menyentuh sesuatu ketika ia memasukkan tangannya ke dalam tumpukan kecil beras. Ketika ia menyisir beras tersebut, ia menemukan kainnya yang sebelumnya hilang.


Supraba segera memanggil Rajapala dan bertanya dengan tajam, "Kamu berbohong! Kamu tahu siapa yang menyembunyikan kainku waktu itu?"――Rajapala merasa malu dan tetap diam. Supraba menyambung, "Aku harus kembali ke surga. Tolong jaga putri-putri kita dengan baik, aku akan mengawasi mereka dari sana". Rajapala panik dan mencoba menghentikannya, berkata, "Bagaimana putri-putriku ini bisa bertahan hidup tanpa ibu mereka?". Namun Supraba tetap pada keputusannya dan berkata, "Jika Tuhan menghendaki kau dan aku bertemu, maka perpisahan ini juga adalah takdir-Nya". Kemudian, ia mengenakan kainnya dan terbang ke surga. Rajapala menyesali kebodohannya menyembunyikan kain itu di gudang alih-alih membuangnya. Dia benar-benar bingung tidak tahu harus berbuat apa.


VI Dimanakah Ibu?

Setelah Supraba menghilang, Rajapala bekerja keras setiap hari di ladang dan mengurus ketiga putrinya sendirian. Rumah yang tadinya rapi menjadi berantakan, dan tubuh Rajapala yang lelah menjadi semakin kurus. Dalam kehidupan yang penuh kesulitan itu, Rajapala tetap menuruti keinginan Supraba dan terus memberikan kasih sayang kepada putri-putrinya. Namun, mereka sering membuat Rajapala bingung dengan bertanya "Di mana ibu?". Selain itu, karena makanan yang tidak bergizi, putri-putrinya lama-kelamaan menjadi sakit-sakitan. Setelah ketiganya menderita demam tinggi, putri sulung Kusuma menjadi lumpuh, putri kedua Puspita menjadi bisu, dan putri ketiga Ratna menjadi buta. Rajapala putus asa dan berulang kali bertanya dalam hati, "Supraba, apakah hatimu juga berpaling dari kami...?".


VII Bantuan Gagak Putih

Walaupun Supraba menghabiskan hari-harinya di surga sambil memikirkan putri-putrinya, ia tidak lagi diizinkan untuk turun ke bumi. Suatu hari, ia melihat sosok putri-putrinya di matanya dan hatinya mulai bergolak. Seekor gagak putih muncul di hadapannya. Sebuah ide muncul di benak Supraba. Ia meminta kepada gagak itu, “Tolong periksa bagaimana kehidupan putri-putriku dan ceritakan kepadaku”. Gagak itu segera terbang ke rumah Rajapala dan melihat ketiga putri mereka yang cacat. Ia kembali ke surga dan memberi tahu Supraba dengan isyarat. Terkejut dengan kemalangan mereka, Supraba segera mengambil daun lontar dan memerintahkan gagak putih untuk membawa daun itu dan menyembuhkan penyakit putri-putri mereka. Gagak itu memasukkan daun tersebut ke dalam mulutnya dan dan kembali terbang turun ke rumah Rajapala. Ia mengusap kaki Kusuma, mulut Puspita, dan mata Ratna dengan daun lontar itu. Ajaibnya, ketiga putri itu pulih seperti sedia kala. Rajapala sangat terkejut dan hanya bisa mengucapkan rasa syukur mendalamnya kepada Tuhan atas belas kasihan-Nya. Ketiga gadis itu tumbuh dengan sehat dan membantu ayah mereka, Rajapala. Sejak saat itu, kecantikan dan kebaikan hati mereka menarik perhatian para pangeran. Akhirnya, ketiganya menikah dengan keluarga kerajaan dan hidup bahagia.


4.4. Tempat Suci yang berhubungan dengan dedari/Bidadari

Dari tahun 2023 hingga 2024, penulis melakukan survei terhadap situs-situs tertentu yang terkait dengan bidadari di Bali. Situs-situs tersebut menyertakan kata dedari (bahasa Bali) atau ‘bidadari’ (bahasa Indonesia) dalam namanya. Hasil penelitian ini dikompilasi ke dalam Google My Map, dilengkapi dengan dengan penjelasan, foto, dan video. Agar dapat memvisualisasikan hubungan yang lebih luas dari legenda bidadari tersebut, peta ini juga mencakup wilayah lainnya, seperti Jawa dan Jepang, yang memiliki situs-situs suci serupa. Pemetaan di Jawa Timur hampir hampir selesai dilakukan oleh tim dari Universitas Negeri Surabaya (Prof. Nasution, Prof. Septina Alrianingrum, dan Mr. Aditya Indrawan). Informasi lebih lanjut akan ditambahkan di masa mendatang.



27 situs yang terdapat pada peta tersebut telah diidentifikasi di Bali melalui kerja lapangan oleh penulis. Situs-situs ini termasuk tempat wisata baru seperti Taman Bidadari di Ubud. Dari seluruh situs tersebut, baik yang lama maupun yang baru, sebagian besar terkait dengan pemujaan terhadap air. Berikut ini adalah lima fitur yang terlihat di situs-situs suci di Bali tersebut.


Sebagian besar tempat tersebut digunakan untuk mengambil air suci untuk keperluan ritual.

Air di tempat-tempat tersebut juga dipakai senbagai obat untuk menyembuhkan penyakit.

Banyak di antaranya terletak di daerah perbukitan seperti lereng gunung dan lembah.

Lokasinya berada di kawasan persawahan, dekat dengan sawah atau terasering.

Situs-situs yang mencakup kuil atau tempat suci tersebut sebagian besar dimiliki oleh komunitas petani (subak) atau keluarga pengurus upacara (Mangku).


Selain itu, dapat melihat juga adanya kecenderungan regional dalam penyebaran situs-situs tersebut. Jika dikelompokkan berdasarkan kabupaten, jumlah lokasi terbanyak adalah delapan di Tabanan, diikuti enam di Karangasem, tiga di Bangli, tiga di Badung, tiga di Gianyar, dan satu di Klungkung.


Selain penyebaran yang terkonsentrasi di daerah persawahan seperti Tabanan dan Karangasem, sebagian besar lokasi juga terkait dengan jaringan sungai yang berasal dari pegunungan. Di sisi lain, keberadaan situs serupa belum dikonfirmasi di daerah kering seperti di Negara dan wilayah timur laut Karangasem. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa pemujaan di Bali terhadap bidadari atau dedari sebagian besar berkaitan dengan budaya persawahan setempat. Dengan mempertimbangkan contoh lainnya, seperti isi cerita Rajapala dan berbagai representasi dewi dalam praktik ritual (Cili atau Dewi Sri: lihat bagian 4-1), dapat dikatakan bahwa konsep dedari di Bali sejalan dengan gambaran ‘kekuatan supranatural untuk kesuburan’ dalam pandangan masyarakat lokal terhadap alam sekitar.