Penyebaran Kisah Pernikahan Manusia dan Bidadari (legenda Hagoromo) di Asia

2 / 7
image

Bidadari adalah simbol kecantikan yang melayani para dewa di surga, dan kadang-kadang turun ke bumi dan mengejutkan orang-orang dengan berbagai keajaiban. Sejak zaman dahulu, manusia menciptakan berbagai cerita tentang makhluk imajinatif ini. Di antara kisah-kisah pernikahan antara manusia dan bidadari, legenda Hagoromo adalah kisah yang sangat terkenal di Jepang. Legenda ini menceritakan tentang seorang bidadari yang mengenakan hagoromo (kain terbang) ajaib, dan turun ke dunia manusia. Cerita semacam ini telah tersebar dalam berbagai versi di seluruh Asia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, Korea, dan berbagai belahan Asia Tenggara.


Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sampai sekarang menunjukkan berbagai klasifikasi alur cerita legenda Hagoromo yang bervariasi tergantung pada daerah asal ceritanya. Akan tetapi, semua versi cerita tersebut memiliki dua elemen yang sama: 1) asal usul cerita tentang seorang bidadari yang turun ke bumi, tetapi dia tidak dapat kembali ke surga karena kainnya tersembunyi; 2) kekuatan supranatural yang mengatakan bahwa keluarga yang menerima bidadari sebagai istri mendapat kekayaan besar. Secara umum, akhir ceritanya dapat dibagi menjadi dua model: 1) model kepulangan, di mana sang bidadari akhirnya menemukan kainnya dan kembali ke surga; dan 2) model bermukim di bumi, yaitu bidadari menghabiskan seluruh hidupnya di dunia manusia. Dalam hubungannya dengan manusia, ada beberapa pola, seperti ‘menikah dengan seorang pria dan memiliki anak’ atau ‘hidup bersama pasangan tua sebagai putri angkat mereka’. Aspek lain yang sangat penting adalah narasi kekayaan hasil dari kekuatan supranatural bidadari, yang seringkali berhubungan dengan panen padi, seperti dalam episode ‘beras di lumbung tidak pernah habis setelah mereka menikah’. Selain itu, ada banyak legenda lain yang berhubungan dengan legenda kain ajaib ini, seperti legenda Tanabata di Asia Timur. Begitu pula, banyak versi lain yang mengadopsi kisah dari Tiongkok, seperti "Penggembala Sapi dan Gadis Penenun (牛郎織女)", "Leluhur Tujuh Bintang (七星始祖)", atau kisah-kisah yang berkaitan dengan Buddha (Kimishima, 1999; Momose, 2013).


Mengapa dan bagaimana legenda Hagoromo ini menyebar secara luas di seluruh Asia? Mungkinkah hal ini terjadi karena faktor-faktor seperti migrasi massal dari daratan Tiongkok, penyebaran pertanian padi, atau agama Buddha? Pastinya, jalur penyebarannya bukan hanya satu saja. Setidaknya, dapat dipastikan bahwa gambaran bidadari memiliki kaitan yang sangat erat dengan dunia mistis masyarakat Asia sebagai media fantasi untuk menghubungkan mereka dengan dunia sekitar. Untuk memahami kekuatan misterius dari dunia ini, mereka mungkin telah menciptakan makhluk imajiner sebagai media penting yang berfungi sebagai jembatan antara langit dan bumi, serta antara manusia dan alam.


Namun, tidak semua cerita tersebut sekadar diwariskan sebagai cerita rakyat semata. Mitologis Taryo Obayashi mengangkat legenda Hagoromo di wilayah Amami dan Okinawa, Jepang, dan menyatakan bahwa legenda tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis: ‘Mitos Kerajaan’ dan ‘Mitos Masyarakat Lokal’ (Obayashi, 1989). Menurutnya, tipe mitos kerajaan menggunakan kisah pernikahan manusia-bidadari dalam konteks pendewaan leluhur raja setempat sebagai sarana untuk memlihara ketertiban sosial antara penguasa dan rakyat. Narasi seperti ini banyak ditemui di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali. Oleh karena itu, penelitian tentang latar belakang munculnya jenis cerita ini dapat menjelaskan hubungannya dengan sejarah pembangunan bangsa dan perluasan wilayah di Asia kuno.