Cerita Bibadari di Indonesia

3 / 7
image

Yuko Momose adalah seorang peneliti asal Jepang yang memperkenalkan hasil penelitiannya tentang cerita rakyat Indonesia, termasuk cerita tentang bidadari (berdasarkan Momose, 2013: 186-205). Menurut hasil temuannya, istilah ‘bidadari’ dalam bahasa Indonesia memiliki berbagai nama lokal dalam bahasa daerah, seperti dedari dalam bahasa Bali. Dalam penelitiannya, Momose menunjukkan bahwa cerita-cerita seperti Hagoromo ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia, dari Aceh di bagian barat hingga Papua di bagian timur. Dengan demikian, Indonesia dianggap sebagai salah satu negara penghasil cerita tentang bidadari paling produktif di dunia. Selain itu, ia juga menganalisis bahwa meskipun ada sedikit perbedaan dalam detail cerita, cerita-cerita tersebut memiliki inti yang sama, yaitu seorang bidadari yang menikah dengan seorang pria yang hidup di bumi tetapi akhirnya kembali ke alam lain (biasanya ke surga)”.     


Ia mengklasifikasikan struktur dasar cerita bidadari di Indonesia ke dalam A sampai E.

A=Seorang pemuda mencuri apa yang disebut hagoromo/kain terbang, milik bidadari yang turun dari surga untuk mandi di kolam.

B=Pemuda itu menikahi bidadari yang tidak dapat kembali ke surga.

C=Mereka memiliki anak setelahnya.

D=Sang bidadari menemukan kainnya melalui suatu kejadian dan kembali ke surga.

E=Berbagai epilog.


Sebagian besar cerita mengikuti urutan A-B-C-D, seperti yang terlihat dalam cerita rakyat Jawa yang terkenal dengan nama Joko Tarub. Namun, ia berasumsi bahwa variasi kisah tentang kekayaan dalam cerita rakyat lokal Indonesia sering muncul pada episode E. Misalnya dari kisah di Sulawesi Tenggara, seorang suami yang mengejar istrinya (bidadari) dan anak-anaknya, berhasil menyelesaikan beberapa tugas sulit yang diberikan kepadanya di surga dan akhirnya membawa keluarganya kembali ke surga. Contoh berikutnya dari Sulawesi Utara, tiga anak yang mengejar ibu mereka di langit gagal mendarat di tengah jalan; masing-masing dari mereka menjadi raja di tempat mereka jatuh. Versi lainnya dari Sumatra Barat, bidadari kembali ke surga bersama anak-anaknya; namun ketika mereka dewasa, mereka turun kembali ke bumi untuk mencari ayah mereka dan membawanya kembali ke surga. Adapun contoh lainnya dari Kalimantan Selatan, ada sebuah kerajaan di mana orang-orang dilarang memelihara ayam hitam, dikarenakan istri raja (bidadari) menghilang dengan menemukan jubah ajaibnya di tumpukan sekam padi yang dipetik oleh seekor ayam hitam. Lain lagi di Bali, sang raja menikah lagi setelah istrinya (bidadari) kembali ke surga dan ketiga anak mereka dianiaya oleh ibu tiri mereka. 


Keragaman juga terlihat pada karakter tokohnya. Kebanyakan pemuda yang mencuri jubah bulu bidadari adalah rakyat biasa, seperti petani, pemburu, atau nelayan. Namun, ada pula versi cerita di mana pelaku adalah dari kalangan bangsawan, seperti raja atau pangeran, atau bahkan orang asing, misalnya pengembara. Sementara itu, bidadari memiliki berbagai rupa penampakan. Ada versi di mana bidadari memiliki sifat hewan seperti burung, ikan, atau ular, meski secara fisik berpenampilan seperti wanita cantik. Cerita biasanya dimulai dengan turunnya bidadari dalam kelompok kecil, umumnya tiga, empat, tujuh, atau sepuluh sosok; tetapi yang paling umum adalah tujuh. Selain itu, tempat-tempat turunnya bidadari tersebut biasanya sebagian besar berada dekat dengan perairan seperti danau, kolam, sungai, atau sumber air yang terletak jauh di dalam hutan.


Masih banyak lagi cerita tentang bidadari di Indonesia, namun Momose membaginya menjadi tiga kategori:

① Jenis cerita rakyat yang mengikuti standar cerita Hagoromo

② Tipe mitos kerajaan yang mencakup episode pembentukan suatu negara

③ Tipe kejadian sebagai bagian dari kisah tentang penciptaan dunia atau fenomena alam


Uraian di atas juga mencakup unsur tambahan ③, berdasarkan dua kategori Obayashi, yaitu ‘Mitos Kerajaan’ dan ‘Mitos Masyarakat Lokal’ yang ditemukannya dalam legenda Hagoromo di wilayah Amami dan Okinawa. Perspektif ini sangat berguna untuk menganalisis berbagai kisah bidadari yang ada di Asia, tidak hanya di Indonesia. Secara signifikan, konteks sosial kisah bidadari di setiap wilayah dibentuk menjadi tiga jenis, seperti yang telah disebutkan di atas, yang saling terkait dengan unsur-unsur kecil seperti atribut pemuda dan tempat bidadari turun. Klasifikasi ini juga sangat mendukung untuk mengkaji kasus Bali yang akan diperkenalkan di Bagian 4.